Dulu saya pendukung Prabowo. Saya sangat terpikat dengan ketegasan dan kewibawaannya serta gagasan Perbaikan dan Perubahan yang sering disampaikan di Pemilu 2019 lalu. Apalagi Prabowo dan simpatisannya saat itu sering mendapatkan perlakuan tidak adil dari penguasa serta minim pemberitaan berimbang oleh media.

Berbeda dengan Prabowo sekarang, yang menurut saya kepribadiannya sudah berbeda dengan sebelumnya. Beliau sekarang kehilangan jati dirinya sehingga sangat terlihat bergantung pada Jokowi. Ide gagasan yang dulu selalu disampaikan, sekarang mulai banyak bertentangan dengan praktiknya. 

Soal kebocoran anggaran, keterbukaan, persoalan ekonomi yang dikuasai asing dan kemandirian bangsa yang dulu kita sering dengar dari beliau sekarang sudah tak ada lagi. Terganti dengan puja puji berlebihan kepada Jokowi dan kinerjanya setelah beliau diangkat menjadi Menteri Pertahanan. Padahal dulu kinerja Jokowi sering dikritisi oleh Prabowo sendiri. 

Bukankah pengabdian tertinggi itu seharusnya kepada kebaikan dan kebenaran, bukan kepada kekuasaan atau atasan?

Dalam pandangan saya, Prabowo sekarang terkesan hanya menampilkan lucu-lucuan, kasar, pendendam, emosian dan anti kritik. Apakah pantas sosok calon pemimpin memiliki kepribadian seperti itu? Saat ini Joget Gemoy Ala Prabowo menjadi ngetrend di kalangan anak muda dan terus dipopulerkan oleh tim suksesnya. Menurut saya, hal itu adalah pembodohan bagi kaum milenial.

Tak hanya itu, belum lama ini juga viral sebuah video yang memperlihatkan aksi arogansi dan sewenang-wenangannya. Prabowo melakukan penolakan secara kasar kepada wartawan yang ingin mengajukan pertanyaan untuk wawancara. Bagi saya yang juga berprofesi sebagai jurnalis, sikap Prabowo tersebut tidak menggambarkan sebagai calon pemimpin yang humanis, tapi terlihat sebagai pemimpin otoriter. Jika belum jadi sudah berani mengancam media, apakah kebebasan berpendapat bisa terjamin kalau beliau jadi presiden?

"Para media hati-hati, kami mencatat kelakuanmu satu-satu. Kami bukan kambing-kambing yang bisa kau atur-atur. Hati-hati kau ya! Hati-hati kau!," kata Prabowo waktu itu di hadapan sejumlah wartawan.

Jika anda tidak percaya, silahkan bisa dicek di media sosial. Sebab di era digital segala sesuatu ada jejak digitalnya. 

Prabowo sekarang lebih fokus ke kekuasaan yang ingin diraihnya dengan tetap meminang Cawapres yang sudah jelas terbukti proses lolosnya divonis melanggar kode etik berat di Mahkamah Konstitusi (MK). Bahkan orang yang memutus perkara tersebut sudah dipecat dengan tidak terhormat dari jabatannya sebagai Ketua MK.

Jadi hemat saya, memilih Prabowo di Pemilu 2024 sama halnya dengan memilih Jokowi jilid ke 3, karena misinya hanya ingin melanjutkan program Jokowi. Sementara 2 periode pemerintahan Jokowi, kita sering kecewa karena tidak cocok dengan cara dan kinerja beliau yang lebih banyak pencitraan dan lupa dengan janji-janji manisnya. 

Seperti janji tidak akan berhutang lagi, tidak akan menaikkan harga BBM, tidak akan impor dan lain sebagainya. Di era rezim Jokowi saat ini ada banyak kebijakan yang diputuskan tanpa melibatkan partisipasi dialog publik. Seperti lahirnya Omnibus Law, Undang-undang Cipta Kerja, KUHP baru, yang semua itu tidak memihak kepada kepentingan rakyat tapi memihak kepada kepentingan penguasa.

Hal itulah yang menjadi alasan kenapa saya di Pilpres 2024 ini tidak mendukung Prabowo lagi dan memilih untuk mengamanatkan suara saya kepada Anies Baswedan. Bagi saya, kepribadian mantan Gubernur DKI Jakarta itu lebih banyak kecocokannya dengan rakyat kebanyakan. 

Salam Perubahan..!!