Oleh : Kholisin Susanto

Kajian tentang perdamaian dengan tema "Carok dalam Perspektif Hukum Kasih" bersama YIPC Madura, Jum'at (23/08/19)

Semua orang pasti ingin damai dengan caraya sendiri. Seperti pergerakan yang dilakukan oleh teman-teman YIPC Madura yang merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama manusia. Kemarin saya berkesempatan bincang-bincang bersama mereka tentang seputar perdamaian dengan tema "Carok dalam Perspektif Hukum Kasih". YIPC ini adalah komunitas pemuda yang bergerak di bidang perdamaian antar agama dan memiliki cabang di berbagai kota seluruh Indonesia. Terimakasih teman-teman Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC), terlebih kepada Mas Josua Bernard Kristian (Mahasiswa Kristen jurusan Hukum asal Surabaya) dan Kak Zainal A Hanafi (Pegiat Literasi Madura) selaku pemantik kajian ini.

Bersama Josua Bernard Kristian (Mahasiswa kristen jurusan Hukum asal Surabaya)

Dalam kajian itu saya sedikit menyimpulkan, Carok adalah duel kekerasan dengan menggunakan celurit yang berujung maut. Begitu kata Zainal yang mengutip di dalam buku Latif Fiata. Terjadinya carok di Madura disebabkan oleh beberapa penyebab. 1. Konflik tanah sangkolan, 2. Konflik bisnis, 3. Konflik harta, 4. Konflik karena kecemburuan dan lain-lain.

Tidak bisa dikatakan carok apabila pertempuran itu terjadi secara berjema'ah atau banyak orang karena yang dinamakan carok hanya melibatkan dua orang. Tidak bisa dikatakan carok juga jika salah satunya belum ada yang meninggal. Carok adalah pembunuhan yang tidak termasuk katagori pembunuhan karena kematian carok sudah disepakati sebelumnya. Sedangkan pembunuhan yakni membinasakan seseorang dengan cara tiba-tiba sebelum lawannya siap.

Begitulah kiranya stigma carok dalam menyelesaikan masalah. Apakah carok di Madura merupakan kearifan lokal yang perlu dijaga? Hemat saya seharusnya tidak, karena slogan "Lebbi Beghus Pote Tolang E Tembheng Pote Matah" yang mendarah daging di jiwa para leluhur Madura hanya dimiliki oleh para petuah yang kemudian diturunkan pada anaknya selaku pemuda. Dari itu, jiwa kekerasan dan berani mati sering disandangkan pada orang Madura.

Padahal, Madura juga memiliki slogan "Rampak Naong Beringin Korong" dimana masyarakatnya banyak berjiwa lemah lembut, sopan dan santun. Sejatinya, orang Madura juga tidak sedikit yang memiliki rasa cinta atau kasih sayang tinggi terhadap Tuhan dan sesama. Tolong menolong, gotong royong bahkan ada yang sampai rela meninggalkan kewajiban pribadi demi kepentingan orang lain.

Hal yang demikian sering kita temukan di pedesaan. Sehingga tak ayal jika begitu marak pesta keluarga (Walimah), hajatan, pembagunan rumah dan orang meninggal bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat dengan saling asih sesama tetangga satu sama lain.

Lalu bagaimanakah cara Hukum Kasih mengkaji serta menyelesaikan masalah?
Hukum Kasih atau Hukum Terutama adalah ajaran Yesus Kristus yang terdapat dalam Injil. Hukum ini diungkapkan Yesus ketika ada orang-orang Farisi yang ingin mencobai Yesus dan menanyakan "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"

Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22:39).
Yesus mengajarkan kepada umatnya untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Kasih yang dimaksud disini adalah dengan memberikan hidupnya untuk Tuhan, berpegang teguh dan taat pada semua rencana yang telah Yesus lakukan dalam hidupnya.

Lalu bagaimana cara membuktikan bahwa kita mencintai Tuhan? Menurut Josua Bernard (JB) Kristian, yaitu dengan cara mengasihi sesama bukan hanya mengasihi orang yang seagama dengan kita. Tetapi kasihilah semua orang. Sebab dengan mengasihi orang lain kita telah mengurangi beban yang ada didalam hatinya. Selain itu, orang tersebut akan merasa bahwa dirinya adalah manusia berharga karena ada orang lain yang memperhatikannya sedemikian rupa.

JB juga menuturkan, dia sangat meyakini bahwa agama selain kristen dan islam juga pasti memiliki konsep kasih sayang seperti itu.

Foto bersama setelah kajian bersama YIPC Madura