Peserta Jurnalistik Nasional bersama Budiman Sudjatmiko

"Di era digital saat ini, kebodohan adalah suatu kejahatan pada diri sendiri, maka suatu saat kebodohan harus dipidana, karena untuk menjadi pintar sekarang itu gratis." kata kanda Budiman Sudjatmiko saat menjadi pemateri di Stadium General Jurnalistik Nasional 2022 yang diselenggarakan oleh LAPMI HMI Cabang Ciputat, (23/02/2022).

Alhamdulillah, kemarin saya diberikan kesempatan untuk belajar langsung kepada beliau, sosok Politisi dan Inisiator 4.0 Indonesia.

Beliau menjelaskan bagaimana peran pers dalam budaya algoritma dan perkembangan inovasi-inovasi teklonogi yang semakin pesat.

Menurutnya, ada tiga kategori dalam rekayasa teknologi di era disrupsi saat ini. Pertama, rekaya antomik (fisik). Kedua, rekaya persepsi, dan ketiga, rekaya biologi.

Inovasi perkembangan media dimulai dari tahun 2000 - 2010 yakni era tekstual, seperti tulisan berita yang ada di koran. Kemudian pada tahun 2011-2020 adalah era medsos audiovisual, informasi sudah berintegrasi menjadi kabar audio yang divisualkan melalui medsos seperti IG, Tiktok, FB dst. 

Budiman Sudjatmiko saat menjadi narasumber pelatihan Jurnalistik Nasional di Jakarta

Adapun tahun 2020-2030, yaitu memasuki era spatial, dimana informasi semakin melimpah tidak terbatas.

Sementara, tahun 2030-2040 adalah era temporal, dimana pada masa itu akan menjadi era yang sangat unik, karena tidak ada batas waktu. Bahkan generasi yang hidup saat itu akan bisa berdikusi dengan generasi 50 tahun sebelumnya lewat media.

Perkembangan media yang paling memuncak hadir pada tahun 2040-2050. Pada masa dinamakan era neurospatiotemporal, contohnya mimpi seorang bangun tidur suatu saat akan bisa didownload di media.

Begitu sedikit kesimpulan yang saya tangkap dari penjelasan kanda Budiman Sudjatmiko. Semoga dapat bermanfaat dan diucapkan terimakasih atas trasnsfer ilmu pengetahuannya.