![]() |
Kholisin's Writing - Untuk meningkatkan intelektualitas dan nalar kritis maka itu memerlukan literatur dan wawasan yang luas dalam hal ini membaca buku. Seperti dalam teori filsafat Yunani ”Semua kata dan perilaku yang benar di awali dengan pengetahuan dan kebijaksanaan".
Ilmu pengetahuan adalah kebutuhan manusia. Hal yang sangat pokok dan memiliki nilai yang sangat tinggi, yang tidak pernah mengecewakan. Tentu kita tidak pernah mendengarkan orang merugi ketika telah mendapatkan ilmu pengetahuan.
Namun polemik yang terjadi hari ini adalah ketika orang-orang malas membaca buku. Menurut Survei organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan PBB (UNESCO) pada tahun 2019, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Minat baca Indonesia berada di peringkat 60 dunia pada level literasi baca, hanya satu tingkat di atas Botswana, salah satu negara di Afrika yang berada di peringkat 61.
Kategori orang yang berintelektual adalah ketika kita mampu menghargai buku. Namun ciri ini tak lagi dimiliki mahasiswa sekarang. Ketika ditanya berapa buku yang ada di kamar? Sehari bacanya berapa bab atau berapa halaman buku? Saat ini dalam pandemi Covid-19 yang dimana segala aktivitas dilakukan di rumah sehingga banyak waktu kosong, sudah seharusnya banyak buku yang selesai atau bisa saja sudah banyak buku yang dibeli.
Dari sekian banyaknya buku di kamar sudah berapa buku yang selesai dibaca? Apakah sudah paham dengan isinya dan mampu menjelaskan ke orang lain? Dari deretan pertanyaan tersebut perlu kiranya kita muhasabah diri, sebab sepertinya buku yang ada di kamar sudah berdebu dan kadang hanya dikeluarkan sebagai pelengkap story media sosial sambil ditemani secangkir kopi.
Mahasiswa sekarang ini hanya sibuk ditengah jalan bakar ban demo. Aktifis itu harusnya cerdas dengan isi kepalanya, sebab jadi aktifis itu butuh referensi, butuh wawasan dan butuh buku. Kalau ujung-ujungnya demo tidak jelas visi, tujuan dan targetnya ditakutkan jadinya aktifis 86. Siang hari berjemur sambil meneriakkan kata “Hidup mahasiswa” malamnya sibuk ngopi sama komandan di Cafe.
Kita perlu menyadari bahwa mahasiswa itu adalah sebagai social of control, sebagai penyambung lidah masyarakat. Jadi mahasiswa itu harus punya kepekaan sosial dan tanggung jawab terhadap dunia sosial.
Disamping polemik minat baca yang kurang dan kurangnya kepekaan sosial serta ditambah lagi mahasiswa harus berhadapan dengan sikap pemerintah dalam membatasi kemerdekaan baca buku, hal itu bisa membuat masyarakat menjadi buta akan literasi serta minim wawasan.
Bagaimana negara ini bisa berkembang jika sikap posesif dan paranoid terhadap komunis pemerintah seperti itu?
Buku merupakan Khairu Jalis teman duduk yang paling baik. Dengan membaca buku kita membuka khazanah ilmu pengetahuan dan buku itu salah satu sumber ilmu pengetahuan di dunia ini. Kita diharuskan untuk banyak membaca buku sebagai bentuk perlawanan akan kebodohan dan semata-mata untuk bebas dalam berfikir.
Nah, bagaimana ketika kebebasan baca buku yang merupakan alat dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan kita malah dibatasi dan dirazia?
Banyaknya razia buku dari aparat sipil akhir-akhir ini di berbagai daerah bahkan di kampus-kampus. Dengan dalih lantaran berpaham kiri atau komunis, serta terindikasi PKI yaitu pemikiran Karl Marx, Lenin sampai dengan pemikiran Tan Malaka.
Razia buku-buku tersebut merupakan suatu tindakan primitif karena telah merenggut kemerdekaan mahasiswa dalam berpikir melalui membaca bahkan hal itu bisa menjadi faktor menurunnya minat baca. Ataukah pemerintah yang berusaha mengendalikan opini publik melalui razia buku-buku tersebut. Serta pemerintah berusaha memenjarakan nalar intelektual yang coba diraih mahasiswa melalui membaca. Cukuplah hal itu terjadi dimasa Orde Baru yang dimana pemerintah pada saat itu membatasi buku-buku beredar demi mengkerdilkan pemikiran kritis masyarakat agar melanjutkan tirani mereka?
Menanggapi persoalan serta polemik tersebut maka perlu kiranya semangat literasi itu dihadirkan untuk memperkuat nalar intelektual dan kritisisme mahasiswa dan hal itu harus tetap terjaga. Sebagaimana yang pernah dikatakan Fran Lebowitz, penulis dari Amerika, “Think before you speak, read before you think.” Kita bisa sepakat bahwa dalam berargumen dan atau mengemukakan suatu pendapat haruslah dilandasi dengan pikiran terbuka serta wawasan yang luas dan itu bisa didapatkan dengan membaca buku.
Jangan pernah jemu-jemu dalam belajar dan jadikan buku sebagai teman jalan sebab teman terbaik dan tak pernah mengecewakan itu adalah buku.

0 Komentar